Sabar di Ujung Usia, Mengenang Haji Halim, Ayah bagi Kaum Miskin

Ditulis oleh: Al Ustadz DR. H. Ahmad Iskandar Zulkarnaen, L.C., M.A.
(Pimpinan Pondok Pesantren di Palembang)

SUMSELTIME.COM, Palembang – Nama almarhum Haji Halim bukanlah nama yang asing di telinga masyarakat Sumatera Selatan. Jika kita bertanya pada mesin pencari atau kecerdasan buatan, jawabannya akan serupa, “Salah satu sosok paling berpengaruh di Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang. Pengusaha sukses sekaligus tokoh masyarakat yang sangat dermawan.”

Namun bagi mereka yang pernah berinteraksi langsung, Haji Halim bukan sekadar data di atas kertas. Almarhum adalah Abul Yatama dan Abul Masakin, sang ayah bagi anak yatim dan penyantun bagi kaum miskin.

Gaya bisnis Abah Haji panggilan akrab untuk Haji Halim sangat khas. Beliau tidak sekadar “menyisihkan” sebagian keuntungan, melainkan secara sadar mengalokasikan hasil penjualan karet dan sawitnya untuk berkhidmat bagi umat Rasulullah SAW.

Kedermawanan ini menjadikannya magnet karismatik. Mulai dari Calon Presiden, pejabat tinggi, hingga calon kepala daerah, seolah merasa wajib “sowan” ke kediamannya. Di balik gurita bisnisnya, sifat sosialnyalah yang membuat nama Haji Halim begitu dihormati di Bumi Sriwijaya.

Selama puluhan tahun, jalan hidupnya tampak lancar. Namun, Sumatera Selatan mendadak geger ketika sosok ikon kedermawanan ini diterpa ujian berat. Almarhum terseret kasus hukum yang menguras energi dan air mata.

Di masa tuanya yang renta, almarhum harus menghadapi dinginnya jeruji besi dengan kondisi fisik yang memilukan. Tubuhnya harus bersambung dengan alat medis, oksigen selalu terpasang, dan obat-obatan menjadi konsumsi harian. Di tengah kondisi itulah, almarhum harus tetap menjalani jadwal persidangan.

Fakta hidup ini mengajarkan satu hal pahit, ada masanya ketika orang-orang yang dulu ditolong justru menghilang saat kita membutuhkan sandaran. Namun, di balik sepinya bantuan manusia, seolah Allah sedang berbisik kepada hambanya, “Aku ingin hatimu bersih. Aku ingin di dalam hatimu hanya ada Aku. Buang semua rasa bergantung selain kepada-Ku, karena Aku-lah tempat bersandar yang sesungguhnya.”

Hikmah dari Senyum yang Tertanam

Mungkin ini adalah cara Allah memuliakan hamba-Nya yang selama ini sibuk menyenangkan orang lain. Kita tak pernah tahu berapa banyak cahaya pahala yang mengalir ke alam kubur beliau dari, senyum anak yatim yang mendapat baju lebaran, bahagia hati para santri saat asrama gubuk mereka dibangun ulang, sumringahnya para ustaz ketika rumah majelisnya dipugar, nyamannya langkah warga menuju masjid melalui lahan yang dibebaskan Abah Haji.

Masyarakat dan para kiai tak bergeming oleh berita miring. Bagi mereka, Haji Halim menjadi penguat bagi yang lemah. Keyakinan umat tetap kokoh, tidak mungkin tangan yang begitu ringan memberi harta Tuhan secara tulus, tega melakukan manipulasi seperti yang dituduhkan.

Wafatnya Haji Halim dalam status terdakwa tidak membuat umat menjauh. Sebaliknya, jenazahnya disambut air mata dan disalatkan oleh barisan shaf yang tak terputus. Doa pengampunan mengalir tulus, melampaui segala status hukum di dunia.

“Sungguh, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (tanpa hisab),”

Selamat jalan, Abah Haji Halim. Takdir Allah telah mengubah ujian menjadi gerbang surga melalui jalan kesabaran.

Ditulis oleh: Al Ustadz DR. H. Ahmad Iskandar Zulkarnaen, L.C., M.A.
(Pimpinan Pondok Pesantren di Palembang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *