Air Mata dan Cinta untuk Sang Dermawan, Kms H Umar Halim Sampaikan Terima Kasih Tak Terhingga kepada Umat

SUMSELTIME.COM, Palembang – Langit Palembang terasa lebih redup hari ini, seiring dengan kepergian sosok ayah, dermawan, dan pelindung bagi banyak orang, almarhum Kms H Halim Ali bin Kms Ali.

Di tengah kesedihan, terpancar sebuah pesan cinta yang luar biasa dari pihak keluarga untuk seluruh umat yang telah mengiringi kepergian sang ahli sedekah yang telah berpulang kepangkuan sang ilahi.

Putra almarhum, Kms H Umar Halim, dengan nada bicara yang penuh getaran haru, mengungkapkan betapa besarnya makna kehadiran dan doa dari masyarakat bagi keluarganya.

Baginya, cinta yang ditunjukkan umat adalah bukti bahwa sang ayahanda telah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan sangat indah.

“Ayahanda kami tercinta kini telah berpulang, namun kami tidak merasa sendiri. Cinta yang Bapak dan Ibu berikan kepada almarhum melalui doa-doa yang mengalir deras adalah penguat bagi jiwa kami yang sedang berduka,” kata sang putra, Kms H Umar Halim dibincangi di kediamannya, Sabtu (24/1/2026).

Almarhum Haji Halim bukan sekadar nama besar di dunia usaha, almarhum adalah sosok yang namanya terukir di 68 masjid yang ia bangun semasa hidupnya, di senyum anak yatim, alim ulama, dan di hati masyarakat kecil yang pernah ia bantu.

Cinta itulah yang kini kembali kepada almarhum dalam bentuk saf-saf salat jenazah yang penuh sesak dan untaian doa yang tak putus-putus di graha Dakwah Al Halim Jalan M Isa, yang dibangun almarhum untuk dijadikan tempat melakukan syiar Islam di bumi Sriwijaya.

“Terima kasih atas segala doa, ucapan belasungkawa, dan perhatian atas berpulangnya ayahanda kami tercinta Kms H Halim Ali Bin Kms Ali. Insyaallah Allah SWT membalas semua kebaikan bapak ibu dan saudara sekalian, Aamiin,” kata Umar.

Ia menambahkan, pihak keluarga merasa bahwa kasih sayang umat adalah kado terindah bagi almarhum di perjalanan menuju keabadian.

Bagi Umar Halim dan saudara-saudaranya kerabat serta orang terdekatnya, mencintai Haji Halim berarti meneruskan nafas kebaikannya.

Kini, sosok yang bersahaja itu telah tiada, namun harum namanya tertinggal abadi. Palembang kehilangan seorang tokoh, namun langit menyambut seorang hamba yang sepanjang hidupnya habis untuk mencintai sesama.

“Selamat jalan, Ayahanda tercinta. Kebaikanmu adalah cahaya, dan cinta umat adalah saksimu menuju Jannah,” tutup Umar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *