Doa Terus Mengalir di Jalan M Isa, Haji Halim Milik Umat

SUMSELTIME.COM, Palembang – Suasana duka yang mendalam masih menyelimuti Kota Palembang. Kepergian sosok dermawan dan tokoh karismatik, Haji Halim, meninggalkan kesedihan bagi masyarakat di Sumsel khususnya Palembang.

Di tengah suasana berkabung tersebut, putra almarhum, Kms H Umar Halim, menyampaikan pesan yang menyentuh hati saat ditemui di kediaman keluarga di Jalan M. Isa, Sabtu (24/1/2026).

Dengan nada bicara yang rendah namun tegar, H Umar menegaskan bahwa pihak keluarga sama sekali tidak membatasi masyarakat yang ingin datang mendoakan atau bertakziah kerumah duka

“Ayahanda kami bukan hanya milik keluarga, almarhum adalah milik umat. Kami tidak akan pernah menghalangi siapa pun yang ingin datang bertakziah. Silakan datang, karena doa dari bapak dan ibu sekalian adalah penguat bagi kami,” ungkap H Umar.

Lautan manusia di Masjid Agung menghantarkan jenazah

Perjalanan abadi sang tokoh dimulai pada Kamis siang (22/1/2026). Sekitar pukul 14.30 WIB, di RS Siti Fatimah Az-Zahra, Haji Halim mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang.

Kabar tersebut seketika menyebar bak kilat, memicu gelombang duka di seluruh penjuru Sumatera Selatan.

Puncaknya terjadi pada Jumat (23/1/2026), saat prosesi pemakaman berlangsung. Sejak pagi, ribuan orang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pejabat, alim ulama, pedagang, ojol dan lainnya berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir.

Lautan manusia terlihat mengiringi keranda jenazah. Prosesi salat jenazah dilakukan berkali-kali dilakukan karena permintaan umat, karena almarhum banyak berjasa dalam menegakkan syiar Islam, dan sudah membangun 68 Masjid semasa hidupnya.

Saat solat jenazah dirumah duka, Jumat (23/1/2026) sekitar pukul 10.00 WIB diimami langsung sang putra Kms Umar Halim, selanjutnya solat kedua diimami salah satu kiyai di Palembang.

Jenazah tiba di dirumah duka usai disolatkan di Masjid Agung dan Masjid Al Falah

Dilanjutkan solat jenazah di Masjid Agung Palembang, dengan diikuti oleh ribuan umat bahkan solat jenazah sampai ke lapis luar Masjid.

Selanjutnya saat melintasi Jalan Rajawali, umat meminta agar almarhum disolatkan di Masjid Al Falah yang telah dibangunnya, menandakan betapa dicintainya sosok almarhum oleh masyarakat.

Saat jenazah diturunkan ke liang lahad di pemakaman keluarga Jalan M. Isa No. 1, isak tangis tak lagi terbendung.

Para ulama dan kerabat tampak tertunduk mendoakan sosok yang selama hidupnya dikenal sangat dermawan dan peduli pada urusan agama ini.

Mewakili Keluarga, Gubernur Sumsel Herman Deru menyampaikan sambutan

Seolah tak ingin kehilangan cahaya dari sosok beliau, ribuan jamaah terus memadati rumah duka pada acara takziah malam pertama.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an, Yasin dan tahlil bergema, menciptakan suasana religius yang sangat kental di graha Dakwah Al Halim, yang ia bangun untuk umat.

Pihak keluarga menyampaikan bahwa kegiatan takziah ini akan terus dilaksanakan hingga 40 malam berturut-turut. Hal ini dilakukan untuk memberikan ruang bagi masyarakat luas yang mungkin belum sempat hadir, sekaligus sebagai bentuk bakti keluarga untuk terus mengirimkan doa terbaik bagi almarhum.

Petakziah dirumah duka

Haji Halim mungkin telah tiada secara fisik, namun kebaikannya telah terpatri abadi di tanah Palembang. Sebagaimana kata putra beliau,

“Haji Halim adalah milik umat,” dan kini umatlah yang mengantarkannya pulang dengan pelukan doa yang paling tulus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *