Seminar Anti Korupsi di UIN Raden Fatah Palembang : Lawan Manipulasi Data di Balik Amplop Cokelat

SUMSELTIME.COM, Palembang – Jumat pagi (12/12/2025) diwarnai dengan semangat moralitas yang kuat di Kampus UIN Raden Fatah Palembang. Ratusan mahasiswa memadati Rafah Tower untuk mengikuti Hibrida Seminar Nasional Antikorupsi Dunia 2025.

Acara ini menjadi sorotan lantaran membawa isu integritas ke dalam diskursus kampus dan menghubungkannya dengan tantangan digital serta target Indonesia Emas 2045.

Seminar yang digelar secara hibrida ini berhasil menjembatani ratusan peserta fisik dan virtual dari berbagai daerah. Dunia digital diakui menjadi kanal baru bagi gerakan moral ini.

Integritas Dimulai dari Pengakuan Diri

Acara dibuka dengan sambutan tulus dari Ketua Panitia Pelaksana, Akbar Vigo Saputra, yang berani mengakui kekurangan dalam persiapan, sebuah gestur yang dianggap peserta sebagai cerminan integritas sesungguhnya.

Semangat kemudian diperkuat oleh Ketua HMPS MPI, Aldo Putra, yang memberikan seruan lantang, “Mahasiswa harus menjadi penjaga moral bangsa. Nilai antikorupsi bukan mata kuliah, tetapi prinsip hidup!” Pernyataan ini segera mengubah suasana ruangan menjadi lebih serius dan reflektif.

Ancaman Korupsi di Era Bonus Demografi
Puncak materi dibuka oleh keynote speaker, Dr. Afriantoni, yang mengaitkan korupsi dengan momentum krusial bonus demografi.

“Generasi emas hanya bermakna jika emasnya tidak ternoda,” ujarnya tajam, mengingatkan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas moral generasinya.

Diskusi diperkaya dengan paparan Dr. Teguh Rokhmani, M.M., yang menekankan strategi membangun ekosistem pendidikan berbasis integritas.

“Siswa tidak akan percaya pendidikan antikorupsi jika guru tidak menjadi teladan,” tegasnya, menyatakan bahwa integritas harus terlihat, bukan hanya diajarkan.

Sementara itu, Ilham Martadinata, M.Pd., memberikan peringatan tentang evolusi korupsi di era digital. “Korupsi tidak lagi memakai amplop cokelat. Ia tersembunyi di balik manipulasi data, akses sistem, dan celah teknologi,” katanya, menekankan perlunya kampus mengajarkan etika siber.

Benteng Moral dari Perspektif Hukum dan Agama
Kandidat Doktor Dicky Andrian memadukan perspektif hukum dan etika Islam, menegaskan bahwa korupsi adalah pelanggaran nilai kemanusiaan karena merampas hak orang lain secara sistematis.

Ia menyerukan agar pendidikan antikorupsi memadukan nilai agama, hukum positif, dan budaya lokal.

Dua pemateri mahasiswa, M. Ilham Pratama dan Amar Fauzan, membawa perspektif yang paling dekat dengan kehidupan kampus. Pratama membuktikan bahwa generasi muda tidak apatis, sementara Amar Fauzan mengkritik keras.

“Kalau kita masih mencontek, memanipulasi laporan, atau menunda amanah kecil, maka seminar seperti ini hanya akan jadi foto di brosur,” tegasnya, menyentil peserta agar mengamalkan nilai antikorupsi dari hal terkecil.

Sesi tanya jawab yang diwarnai pertanyaan-pertanyaan reflektif dari peserta seperti Aldo, Tina Solihatun, Rendi, dan Ahmad Fatriantoni, mencerminkan kegelisahan kolektif generasi muda terhadap ancaman korupsi yang kini semakin cerdas dan sistematis.

Menutup acara, kesimpulan yang menguat adalah bahwa perang melawan korupsi bukan hanya tugas lembaga negara, melainkan keputusan moral yang harus dibuat setiap individu setiap hari.

Dari Palembang, Hibrida Seminar Nasional Antikorupsi Dunia 2025 mengalirkan pesan kuat: menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, melainkan soal keberanian moral generasinya. Harapan itu kembali menyala, menandakan bahwa bangsa ini masih memiliki anak muda yang ingin membangun Indonesia dengan hati yang bersih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *